Langsung ke konten utama
Akulah si penulis itu, penulis yang sibuk menulis kisahnya sendiri namun tak mampu menyelesaikannya.

Akulah si penaif itu, yang selalu memilih membohongi hati yang selalu mengutamakan kebahagiaan orang lain.

Aku juga adalah si pengecut itu yang selalu mundur dikala kaki sudah melangkah maju hanya karena takut menghadapi resiko.

Aku bahkan si boneka itu...  Ya... Boneka yang selama ini selalu menuruti segala apa yang ia mau.

Dan aku pula sang pemakai topeng terhebat itu yang selalu berhasil menipu banyak orang dengan menampakkan wajah tidak apa-apa nya.

Jangan tanya mengapa aku masih bertahan melakukan ini? Karena aku pun tak tahu. Yang aku tahu aku hanya sedang menikmati luka ini.

Luka yang secara tak sadar telah meracuni diriku, mematikan saraf bahagiaku, dan melumpuhkan hatiku.

Lalu apa aku tak ingin keluar dari semua itu? Aku ingin bahkan jiwa ku sudah bertahun-tahun berteriak meneriaki diriku untuk berhenti melakukan itu semua. Namun sepertinya telinga ku sudah terlalu tuli hingga tak bisa mendengar. Dan kegelapan sudah rumah untuk ku.

Komentar

  1. Kamu sudah temukan tempatmu, sudah temukan tempat untuk kamu percayakan hatimu, tempat kamu luapkan keluh kesahmu. Berjalan hanya pilihan, tak peduli siang malam kamu sudah tentukan pilihan.
    Terus, teruskan, teruskan dan jangan lihat belakang. Belakangmu bukan alasan untuk kamu menutup dia yang sudah kamu percaya, biar si badut ini menghibur diri, tetap memegang janji,meski ia tahu, ia tak akan pernah pamrih, berharap pun tak berani, berusaha dirasa tak ada guna, biar badut ini tetap disini, menunggu kamu pasti kembali,

    September jadi saksi, betapa dandelion ditiup sekeras apapun ia tetap lembut,tapi kokoh tegap berdiri, dari aku si badut yang pernah berusaha membuat mu tersenyum dan tertawa.

    BalasHapus

Posting Komentar